Selamat Datang Sobat... silahkan pasang iklan sobat disini, GRATIS selamanya, dengan tetap mengikuti kaidah standar informasi, harus LENGKAP, JELAS dan DAPAT DIPERTANGGUNGJAWABKAN. Jangan Lupa, cantumkan Nama, Alamat, Kontak dan URL/Website/Blog sobat dalam konten iklan sobat, agar pembaca iklan sobat menjadi semakin yakin untuk berkomunikasi dan bertransaksi dengan sobat. >> Baca ketentuan pasang iklan selengkapnya, KLIK DISINI >>
1 Program di ikut, raih BONUS berlimpah, HANYA DI RWP GRUP.
================================================
>> Ketahui lebih lanjut, klik DISINI <<

================================================

Ma … Aku Tidak Mau Salah Jurusan

Suatu hari ada orang tua bersama anaknya, mahasiswa fakultas hukum semester akhir salah satu perguruan tinggi swasta terkemuka di Jakarta, datang ke rumah.

Sepasang orang tua ini sedang bingung karena anak laki-lakinya yang hampir menamatkan pendidikannya tidak mau mengerjakan tugas akhir sebagai syarat kelulusannya. Padahal jika sudah sampai batas waktu akhir yang telah di tentukan, dia terancam drop out. Mereka tidak mengetahui alasan anak laki-lakinya tersebut tiba-tiba mogok, tidak mau menamatkan kuliahnya.

Setelah panjang lebar berbicara dengan anaknya secara terpisah, akhirnya dapat ditemukan akar permasalahnnya.

“ Bapak, Ibu…setiap anak memiliki ciri yang berbeda-beda,

baik dari sifat, karakter, juga kekuatan dan kelemahannya.

Anak Ibu memiliki kecenderungan sifat agak pendiam, kurang suka bergaul, menyukai hal-hal yang bersifat teknis, suka berada atau bekerja sendiri dalam ruangan, kurang menyukai pekerjaan yang berhadapan dengan manusia yang mengandalkan kemampuan komunikasi, dan banyak lagi ciri lainnya. Ciri-ciri inilah yang sebenarnya bisa dijadikan petunjuk dalam mengarahkan bidang yang sesuai dengan karier anak ibu. Sayangnya selama ini tidak ada seorangpun yang bisa mengidentifikasi petunjuk-petunjuk berharga ini, tidak pendidik, tidak juga sekolah, atau orang tuanya”.

“Dari petunjuk lebih dalam, anak ibu sangat tidak menyukai bidang hukum seperti keinginan orang tuanya. Bidang yang menjadi minatnya adalah design grafis atau animasi komputer”.

“Jadi selama ini anak Ibu ketakutan akan profesi yang akan digelutinya kelak, karena profesi tersebut bukan keinginannya. Dia sangat tidak menyukai pekerjaan yang berhubungan dengan manusia dan melibatkan komunikasi langsung terlebih lagi dengan berdebat”.

“Oleh karena itu pada detik-detik terakhir mendekati penyelesaian kuliah, tekanan itu muncul makin hebat menghantui dirinya. Anak ibu ketakutan membayangkan dirinya berprofesi di bidang hukum dan berhadapan dengan publik. Jadi dia berfikir sebagai jalan terakhi mengambil keputusan untuk mogok dan tidak mau mengerjakan tugas akhirnya.”

Kedua orang tua anak tersebut kaget mendengarnya.

“ Sesungguhnya potensi-potensi itu bisa diketahui sejak jauh hari, sebelum anaknya menentukan sekolah dan bidang yang dipilih”.

“Jadi sekarang ini kami harus bagaimana? Kami tidak ingin masalah ini menjadi berlarut-larut.” sela Bapak anak tersebut.

“ Begini Pak. Jika anak Bapak dipaksa terus untuk menyelesaikan tugas akhirnya, bisa saja. Tetapi itu Bapak telah mewariskan sebuah penderitaan seumur hidup. Sementara perjalanan hidup anak Bapak masih sangat panjang. Jadi jika yang diwariskan adalah penderitaan,

dia akan merasakan dalam waktu yang sangat panjang. Jalan keluar yang jauh lebih berharga, memberi kesempatan meraih sukses dalam hidupnya, sedangkan untuk sukses bisa diraih apabila dia menggeluti profesi yang dicintainya.”

Sampai akhirnya dicapai kesepakatan walau dengan berat hati, orang tuanya mau menerima keinginan anaknya untuk tidak melanjutkan dan menamatkan pendidikan Fakultas Hukum, melainkan pindah jurusan ke bidang animasi komputer dengan syarat dia haru menyelesaikannya dengan baik.

Sungguh memprihatinkan, sudah terbayang betapa besar biaya sosial, waktu dan finansial yang harus di keluarkan keluarga tersebut.

Walaupun orang tuanya cukup mampu, tetap saja akan rugi waktu dan tenaga karena harus memulai segalanya dari awal.

(Sumber dari Buku Ayah Edy Punya Cerita – School with no goals).

***

Related dari cerita diatas kami ambil dari sumber lain disebutkan bahwa

… sebanyak 87% mahasiswa di Indonesia salah jurusan” (Irene Guntur 2014).

… survei terhadap 1400 guru di DKI, ada 75% guru di DKI yang tidak berbakat guru … ” (Aba Rama).

 

Semoga kita bisa ambil pelajaran dari peristiwa diatas, dan kita berharap peristiwa seperti ini tidak terjadi pada diri kita dan anak-anak kita. Alangkah bijak kalau kita bisa mendeteksi potensi-potensi diri kita dan anak-anak kita sejak dini, misalkan dengan analisa tulisan (graphology).

 

Alpha Graphology Center

http://www.AlphaGraphologyCenter.com

https://AlphaGraphologyCenter.wordpress.com/