Hidup Di Kota, Urban Farming Jadi Pilihan ?

Masih ingat lagu anak-anak “pepaya mangga pisang jambu ?” Untuk menyegarkan kita, berikut penulis sampaikan satu bait pertama lagu anak-anak tersebut :

Pepaya mangga Pisang Jambu

Dibawa dari Pasar Minggu

Disana banyak penjualnya

Di Kota banyak pembelinya ….

Dari bait awal sudah jelas nampak, meski pengungkapannya masalah buah-buahan, namun terkandung makna mobilitas ekonomi. Di Kota pembelinya banyak, tapi siapa yang menanam ?

Kondisi lingkungan saat ini sangat memprihatinkan. Hal tersebut terjadi karena berbagai factor. Yaitu perkembangan zaman, pertambahan jumlah penduduk, kurangnya inisiatif untuk menjaga lingkungan dan kebiasaan buruk yang kerap dilestarikan. Karena itu, manusia wajib menjaga dan merawat kelestarian lingkungannya. Kenyataan yang terjadi berbanding terbalik dengan harapan. Manusia seharusnya melindungi lingkungan hidupnya, malah melakukan tindakan yang dapat menimbulkan kerusakan alam.

Disisi lain, krisis pangan yang pernah dihadapi Indonesia sesungguhnya diakibatkan karena kelangkaan sawah dan sedikitnya orang yang mau menjalani profesi sebagai petani,hal ini menyebabkan kelangkaan hasil bumi di pasaran, kondisi ini yang banyak dimanfaatkan pihak-pihak yang tak bertanggung jawab dengan mengimpor komoditi tertentu. Seperti bawang putih dengan harga murah tetapi kualitasnya rendah, dan tak jarang mengandung bahan kimia yang berbahaya bagi kesehatan.

Urban farming yang akrab disebut pertanian perkotaan memiliki potensi menggiurkan. Konsep urban farming atau pertanian perkotaan adalah memanfaatkan secara maksimal lahan sempit yang ada di perkotaan untuk kegiatan pertanian, peternakan dan perikanan.

Akhir-akhir ini urban farming sudah menjadi trend di kota-kota besar di dunia, dan tidak ketinggalan Jakarta. Berbagai komunitas dan penggiat urban farming telah lahir untuk menginisasi kegiatan-kegiatan positif yaitu memanfaatkan ruang terbuka menjadi lahan hijau produktif.

Mulai dari lahan kota yang terbatas hingga karakteristik masyarakat di perkotaan, kemudian muncul pertanyaan, apakah ada peluang bagi urban farming ?

Kira – kira apa saja contoh nyata dalam pengaplikasian pertanian perkotaan, mari simak.

Vertikultur.

Teknis budidaya secara vertical atau disebut dengan sistem vertikultur, merupakan salah satu strategi untuk mensiasati keterbatasan lahan, terutama dalam rumah tangga. Vertikultur ini sangat sesuai untuk sayuran seperti bayam, kangkung, kucai, sawi, selada, kenikir, seledri, dan sayuran daun lainnya. Namun demikian, untuk budidaya vertikultur yang menggunakan wadah talang/ paralon, bamboo kurang sesuai untuk sayuran buah seperti cabai, terong, tomat, pare dan lainnya. Hal ini disebabkan dangkalnya wadah pertanaman sehingga tidak cukup kuat menahan tumbuh tegak tanaman.

Hidroponik.;

Hidroponik berarti budidaya tanaman yang memanfaatkan air dan tanpa menggunakan tanah sebagai media tanam. Faktor penting yang perlu diperhatikan pada hidroponik adalah unsure hara, media tanam, oksigen dan air. Hara akan tersedia bagi tanaman pada pH 5.5-7.5, sedangkan yang terbaik adalah pada pH 6.5. Jenis larutan hara pupuk yang sudah sangat dikenal untuk tanaman sayuran hidroponik adalah AB mix solution. Sedangkan untuk kualitas air yang sesuai adalah yang tidak melebihi 2500 ppm atau mempunyai nilai EC tidak lebih dari 6,0 mmhos/cm serta tidak mengandung logam berat dalam jumlah besar.

Aquaponik dan Vertiminaponik.

Akuaponik merupakan sistem produksi pangan, khususnya sayuran yang diintegrasikan dengan budidaya hewan air (ikan, udang dan siput) di dalam suatu lingkungan simbiosis. Vertiminaponik merupakan kombinasi antara sistem budidaya sayuran berbasis pot talang plastic secara vertical dengan sistem akuaponik. Sistem ini dilengkapi dengan talang plastic dengan panjang 1 meter sebanyak delan buah yang disusun di rak besi yang diletakkan diatas tandon air/kolam. Media tanam yang digunakan adalah batu zeolit berukuran 20 mesh yang dicampur dengan bahan organic dan tanah mineral dengan perbandingan 3:1. Sistem penanaman dengan menggunakan vertiminaponik dilakukan secara padat tebar, yang artinya benih disebar dengan jarak tanam sangat padat. Selain itu, ikan yang dibudidayakan juga secara padat tebar, yaitu 300 ekor untuk ikan lele, sedangkan bawal, nila dan patin sekitar 150-200 ekor.

 

Wall gardening.

Sistem budidaya wall gardening termasuk dalam jenis budidaya tanaman vertical. Bedanya sistem ini, memanfaatkan tembok atau dinding sebagai tempat untuk menempatkan modul pertanaman. Model wall gardening sangat popular untuk tanaman hias dan bahkan sudah banyak dijumpai di gedung-gedung perkantoran atau pusat perbelanjaan yaitu sistem kantong yang sangat mudah dan murah untuk diaplikasikan oleh masyarakat. Wall gardening dengan sistem kantong ini dapat dibuat dari lembaran filter geotextile, bahan screen atau terpal. Selain sistem kantong, wall gardening yang mudah diaplikasikan adalah sistem modul, dengan menggunakan media tanam campuran cocopeat dan pupuk kandang/kompos yang dimasukkan ke dalam modul. Penyiraman dan pemupukan untuk sistem wall gardening ini biasanya menggunakan sistem fertigasi otomatis.

Integrasi ikan dan tanaman.

 Budidaya ikan juga dapat diintegrasikan dengan komoditas lain seperti sayuran, atau dapat disebut dengan sistem akuaponik. Pada budidaya akuponik, nitrat dan pospat yang merupakan limbah dari budidaya ikan dapat diserap dan digunakan sebagai pupuk oleh tanaman akuatik sehingga menurunkan konsentrasi cemaran (N dan P) serta meningkatkan kualitas air. Sistem ini sangat sesuai aplikasinya di masyarakat perkotaan karena dapat diterapkan di pekarangan rumah, hemat air, hemat tenaga, hemat waktu, hemat pupuk dan hasilnya pun sehat (non pestisisda). Selain itu, dapat pula berfungsi menambah estetika lingkungan.

Vermikompos.

Merupakan proses pengomposan dengan memanfaatkan berbagai jenis cacing sebagai agen pengomposan. Spesies cacing yang sering digunakan adalah cacing kecil merah (eisenia foetida dan eisenia Andrei), sedangkan cacing tanah merah (lumbricus rubellus) dan cacing biru (perionyx excavates) juga sering digunakan meskipun cacing jenis ini kurang mampu beradaptasi pada umpukan kompos yang dangkal. Sementara itu, cacing tanah biasa (lumbricus terrestris) tidak direkomendasikan untuk digunakan dalam pengomposan karena dapat menggali lebih dalam dari tumpukan kompos yang disediakan. Selain cacing, bahan utama lain dalam pembuatan vermikompos adalah limbah buah dan sayur, limbah kopi, teh, roti, potongan rumput, kertas dan lain-lain. Dalam praktek skala kecil atau rumah tangga, vermikompos sangat mudah diaplikasikan, wadah yang dipakai dapat menggunakan filling cabinet yang terbuat dari plastic, sehingga tersusun rapi dan bersih.

Komposting sistem tumpukan (heap).

Metode pengomposan dengan sistem tumpukan selain mudah, juga murah. Fitur dimensi untuk tumpukan adalah minimal 1,5 m x 1 m, sedangkan panjang tumpukan dapat bervariasi tergantung jumlah bahan yang digunakan. Pembalikan tumpukan dapat dilakukan secara berkala. Sisa makanan tidak boleh dibuang pada tumpukan karena dapat mengundang lalat. Sedangkan bahan berkayu juga dapat ditambahkan dalam tumpukan, namun diperlukan perlakuan lain berupa pencacahan bahan sehingga partikel bahan menjadi lebih kecil.

Sistem MOL.

Alternatif lain dalam memproduksi pupuk adalah dengan sistem MOL (mikroorganisme local), yaitu memanfaatkan berbagai limbah dapur dengan memisahkan bahan yang berlemak seperti daging, dan ikan.  Selain air dengan komposisi  60% dan limbah 40%, dalam metode ini juga dibutuhkan activator, yang kemudian pupuk akan siap digunakan setelah 3 minggu. Pembuatannya pun tergolong praktis, wadah yang digunakan untuk fermentasi dapat berupa bahan bekas seperti botol minum, ember yang tertutup rapat, dan tong.

Informasi :

Bagi Bapak/ibu yang tinggal di kota, mudah-mudahan ini menjadi solusi bagi kita untuyk tetap bisa bercocok tanam, minimal untuk di dapur kita sendiri, untuk konsumsi keluarga sendiri. Silahkan, jika Bapak/Ibu berminat untuk memulai belajar urban farming, belajar bagaimana bertanam sayur dengan media hidroponik, Nudira Learning Center mengadakan Pelatihan Hidroponik Bagi Pemula dan Tour De Farm & Hidroponik Skala Komersil, serta Pelatihan Meracik Nutrisi Hidroponik.

Yuk Belajar Hidroponik bersama kami.

http://nudiralearningcenter.com/blog/hidup-di-kota-urban-farming-jadi-pilihan/

 

Ayo berbagi informasi dengan sesama via :
Nudira Learning Center

Syahrul21

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *